Foto Alumni MTs Sirnamiskin TP 2002-2003Consquences of Educational Communication
Communicaton process is organisations are extraordinarily. Both formal and informal communication provide the basis for different forms of social organization and path way for the flow of massages. This rich fow has at leat two major consequences: The first is the development of a unique or specialized organizational culture and the second is the development and maintence of two kinds of cohesion that binds the members of the group to the whole.
Specialized organizational cultures. Every human group has a culture. Specialized cutures are those beliefs, attitudes, values, and patters of behavior shared within some segment of a society that distinguish it from the general culture of the society.
Recall the earlier discussion on the vertical nature of the formal channels of communications in large organizations. In a typical production-oriented industrial organization, then, within the engineering division, formal massages flow uyp and down the line.
Cho intro:
di dalam hati ku bertanya kegilaan ini
menusuk sanubari menikam asa
dan butakan nurani
Nafas Degradasi peradaban Zaman
ketika para samiri semakin bebas berkeliaran
Gentayangan Dalam percaturan Aqidah sempalan
Kombinasi majas liberal dan logika sompral
Kaderisasi Abdullah bin ubay bin saba bin dajjal
Cangkok modernitas dari kupasan sinetron berlabel dakwah abal-abal
Kacung Dollar yang coba ambil alih kapitalisme dan pembodohan serial
sinetron dalam skenario para pembual
Lalu akhiri setiap chapter Tauhid dengan kuburan meledug,
Mayat penuh belatunglah, kecoalah, cacinglah
Penuh lintahlah lalu bau busuk dan sampah
Sama persis seperti Aqidah para kurawa
Yang caplok sengketa beras bulog
Dari blok konsumerisme rapelan anggota dewan & prestasi jeblok
Tidak beda dengan bisnis vcd porno glosiran glodok
Terkombinasi dalam dana illegal kemunafikan pemilu elit-elit bolot
Mencolok seronok
Mengambil kesempatan dalam kesempitan
Lalu lempar retorika dengan tampang sok menawan
Mengkonsumsi wacana democrazy para legislatif
Dan air lendir kamar hotel sebagai rileksasi alternatif
Kacung zionis yang coba berlaga hanif
Sambil back up prostitusi progresif
Jaringan mafia kemunkaran yang makin atraktif
Hak asasi seperti apa sih yang kalian maksud?
Ketika media jerumuskan propaganda
Mengupas bangkai dan memonopoli sajadah
Menyerang ulama lalu dustakan agama
Persis seperti dusta besar konspirasi yang coba bungkam
Keteguhan Ba’asyir dan poligami Abdullah Gymnastiar
Chorus :
Hati-hati Freemasonri
Terbangun dari rotasi konspirasi
Energy hirarki para tirani
kamuflase hak asasi
skenario pirasi pion konsumerisme klub rotari
voting tentang prostusi dan hak asasi
atas nama kebenaran dari kacamata demokrasi
Undercover!
Agenda tersembunyi ini takkan bisa di barter
Mulai dari isu anti poligami yang dibuat santer
Di carter dari kepentingan fenomena anti teroris ala para crusader
Jual beli saham ibu pertiwi
Untuk devisa dari percaturan departemen maksiat dalam negeri
Playboy takkan mati !!!
Sejak nurani dewan pembantaian rakyat
Membungkam poros indosat
Diatas saham generasi kami
yang dijual dari Riba korupsi BUMN dan MTV
moralitas ejakulasi dana rapelan
bumbu kolesterol pilkada dari kurs busway dan tradisi Banjir Jakarta
imbas invasi kapitalisme dataran tinggi rasuki daerah
Villa pariwisata dan devisa bisnis ejakulasi merajalela
Retorika bagi hasil dan bunga bank
topeng pemodal berwatak hitler yang makin edan
Maka apa arti RIBA?
sejak slogan syariah masih terlalu lugu tuk sterilkan Bank Indonesia dari intervensi IMF
bercampur bersama asset keuntungan jaringan film BF
bensin fatwa haram departemen agama
yang menjilat ulang ludah bisnis minuman keras
atas nama bea dan cukai departemen perdagangan
dan kemajuan pariwisata
persis seperti para munsyid yang mengumpulkan dana untuk palestina
atas nama Jihad dan Dakwah
sambil menunda waktu sholat tepat waktu ketika Adzan tiba
atas nama fiqud dakwah atau takut kehilangan massa
mengaku aktivis dakwah sambil memelihara Taghut yang tak ada habisnya
Chorus :
Hati-hati Freemasonri
Terbangun dari rotasi konspirasi
Energy hirarki para tirani
kamuflase hak asasi
bicara soal zionis dan dakwah atas nama gerakan reformis
perhatikan kelakar para aktivis mulai prejudis, ironis, opportunis
pakai bendera palestina dimana-mana
bicara Jihad Fi Sabilillah
tapi disuruh nikah
malah nawar ukhti dibatas waktu kuliah
akhwat kok di order
emangnya mikrolet
ngak usah ngomong jihadlah
jihad yang aduhai aja nggak berani
gimana mau bicara jihad kayak di Palestina
ya tapi akhirnya ada juga yang berani walimah..tapi ya gitu deh
ngaji pulang ngaji pulang habis walimah ngilang
Realita mulai samakan Tuhan dengan uang
Kalau tidak dia bakal hengkang
Ngambek kayak Gamal Abdul Naseer sama Hasan Al Banna ketika membangkang
Bacot shiffin merajela lalu angkat bendera perang
democrazy kegilaan merasio dilema habiburahman el shirazy
sejak VJ Rianti mendominasi sinema ayat ayat cinta
berharap sajadah cinta mesra bertasbih
dengan lusinan konsumerisme ibu kota
yang tak kunjung beri harapan pada lusinan pemerkosaan akhwat di abu graib
terlalu gaib untuk mampu terjemahkan aib
begitulah democrazy mendominasi hegemoni dengan budaya salib
menyalib rongsokan retorika yang makin kehilangan bait jadi diri
dari lawakan penghisap rokok kapitalis yang coba bicara revolusi
pelacur marx dan nietzhie dari prostitusi stadium zionis tingkat tinggi
level murtad yang makin kehilangan trombosit aqidah islami
logika kronis retorika statis apatis
seidiot syahadat kita di turnamen sepakbola piala asia yang sarat doktrin kapitalis.
SAJAK CINTA DI UMUR ENAMPULUH EMPAT TAHUN
dalam perbincangan seusai senja itu
kau terasa begitu puisi:
pasir pantai dan rinai rinai
hujan di masa kecilku menari nari dan menganaksungai
di kedalaman lesung pipimu.
o demi kedua bola matamu yang sendu
kugosokkan kedua telapak tanganku agar hangat. agar lamat lamat
dapat kusekakan tangismu. dan kupindahkan duka
dan kupindahkan airmata
ke wajah rembulan yang nestapa.
bibir atas dan bibir bawahmu
yang merah muda mengeluhkan cintaku yang
menurutmu semakin habis saja. getarnya pelan dan lemah.
seperti kesunyian yang rutin merangkak rangkaki punggung kota. aku diam.
aku selalu diam kalau sedang duka atau jatuh cinta.
ah, sekarang kaupun ikut diam. suara jangkrik dan rayuan jalang
bunga bunga di bawah jendela
menggantikan keluhanmu. sebuah radio buruk di atas meja
berkisah tentang sepasang kekasih yang saling menikam.
—cara yang bagus untuk bunuh diri. sementara malam semakin kelam
dan bulan memucat seperti geliat sepi.
menatap kulit pipimu yang kuning
dan harum mengingatkanku akan ciuman ciuman
yang dulu saling kita berikan. bagai kupu kupu yang tidak kian
lelah mengepakkan sayapnya yang biru kehijau hijauan.
tetapi di pipimu yang kuning dan harum itu
kini ada sebaris peringatan dan tanda seru:
"o cintamu telah berkurang!"
dadaku sesak membayangkan kau menangis di kamar kecil di malam malam
ketika aku pulas tertidur dan tak sadar bahwa cintaku telah berkurang.
waktu tak pernah ambil pusing dengan permasalahan kita. dengan
airmatamu dan diamku. atau
dengan bibir merah mudamu dan sisa sisa ciumanmu di leherku.
waktu terus saja menjalankan tik toknya
seperti cicak terus terus membunyikan cak caknya.
tetapi bukanlah waktu yang membikin kita harus bersegera
melainkan aku yang tidak ingin
membuatmu jadi kering dan tua: bagaimana kalau kita
selesaikan saja
cinta ini dengan pucat?
di atas meja di dalam kaca jendela
sebuah radio buruk
kembali
menggumamkan berita
tentang sepasang
kekasih
yangbunuhdiri.
(2009)
GADIS BAR
tiga botol bir
di meja bulat di depanku
menyimpan rapi
sebungkus senyum
& warna kulit punggungmu
yang ranum.
dari pintu itu,
—yang sengaja kamu buka
kusaksikan di luar
malam semakin bercahaya
sebab lampu lampu neon
dan lampu lampu bukan neon
begitu murah menjajakan cinta
juga keindahan.
hai, aku ingin mencatat nama
di pinggulmu yang bagus itu
dalam sebuah prosa
atau barangkali puisi
: tentang gadis manis yang menawan
seperti kupu berwarna sendu
yang menghiasi taman taman
tetapi bukan
kupu kupu hitam
bersarang
di balik sinar neon
yang terkadang
mesti rela untuk
dicium atau dipeluk
lalat lalat busuk.
hai, aku ingin mencatat nama
di pinggulmu yang bagus itu
dalam sebuah prosa
atau barangkali puisi
: tentang seorang gadis
yang hidupnya begitu manis
serupa daunan basah dan kabut
di sela sela rinai gerimis
tetapi bukan
gadis malang berpinggul bagus
yang kutemui di bar pada kerlip malam
ketika aku tak hendak menulis
atau membayangkan
puisi tentang kabut dan gerimis.
aku ingin mencatat nama
di pinggulmu yang bagus itu
tetapi bukan
sebagai namamu. hai!
Jogja, November 2009
.jpg)
.jpg)

